Pages

Senin, 30 Juli 2012

Kisah Kita


Sebarapa lama pun waktu yang ku habiskan untuk menunggumu
Pada akhirnya aku sadar
Garisku dan garismu tak ditakdirkan bersinggungan

                Ku langkahkan kakiku menembus lembaran kenangan yang telah dilalui, membuatku kembali berpikir ternyata telah banyak kenangan yang telah tercipta, membuatku tersenyum penuh arti. Kakiku dengan penuh semangat memasuki setiap lorong–lorong kenangan yang ada, aku seperti terseret ke pusaran waktu yang menarikku kembali untuk terus mengingat setiap kenangan yang telah tercipta. Tempat ini masih sama, dan mungkin akan selalu sama terutama untuk menyimpan kejadian-kejadian yang dulu tercipta atau haruskah ku sebut kenangan ? karena sebentar lagi aku akan meninggalkannya-mungkin-. Ku telusuri setiap sudut ruangan ini, di ruangan kelas ini masih sama seperti 4 tahun lalu, saat terakhir aku berada disini. Aku menyentuh sudut meja yang berada didekat jendela deretan kedua, aku kembali tersenyum penuh arti, aku mendudukkan diriku di kursi merasa begitu lelah. Entahlah, aku hanya merasa lelah dengan semua ini.
                Pernahkah kau mencintai seseorang sedalam ini ? pernahkah mencintai seseorang yang sama selama bertahun-tahun ? Mungkin pernah, mungkin semua orang pernah mengalaminya. Dan beruntung aku pun mengalaminya,mencintai satu orang dalam waktu 5 tahun. Mencintainya dalam diam, dan masih terus mencintainya.
Ku topangkan daguku dengan tangan kananku, mencoba menelusuri setiap jejak kenangan yang ada. Ada alasan khusus kenapa aku berada disini hari ini dan ruang kelas ini merupakan salah satu tempat yang akan aku kunjungi hari ini dari 3 tempat yang sudah ku rencanakan sebelumnya, karena sebentar lagi aku akan pergi, pergi meninggalkan kenangan yang ada untuk membersihkan hatiku dan meraih apa yang selama ini aku mimpikan. Namun sebelum melapasnya aku akan menelusuri kembali jejak kenangan itu, dan kemudian akan kusimpan dalam sudut otakku dan menjadi sebuah kenangan abadi yang entahlah dapat kusebut indah atau miris.
                Kupandangi sekali lagi seluruh isi ruangan ini, dan mencoba merekam kejadin yang dulu pernah ada, senyum yang kerap kali tercipta, tawa yang selalu membahana, dan debaran jantung yang selalu bergemuruh ketika dia ada. Setelah puas, aku pun melangkah keluar menuju ke tempat selanjutnya, yang juga menyimpan begitu banyak kenangan.
***
               
Kakiku terus melangkah menelusuri setiap rak-rak buku yag ada di toko ini, Ya..aku sekarang sedang berada di toko buku, lebih tepatnya toko buku yang selalu aku kunjungi bersamanya. Hari ini aku datang bukan untuk mencari buku seperti biasa, hanya ingin merekam setiap sudut kenangan yang pernah terjadi disini. Tempat ini selalu ku kunjungi bersamanya jika aku atau dia sedang ingin membeli buku atau bahkan hanya untuk sekedar mengisi waktu luang, salah satu hal yang paling ku sukai dan dia. Biasanya kami akan terpisah jika sudah berada di dalam toko ini, aku akan lebih memilih menuju ke rak buku yang berisi novel-novel dan dia akan segera meluncur menuju rak buku yang membahas mengenai psikologi. Namun, ketika dia sudah bosan atau merasa kesepian maka dia akan segera menghampiriku, mencoba melihat-lihat apa yang aku baca dan mulai mengomentari bahan bacaanku yang menurutnya terlalu mellow atau terlalu picisan dan aku pun akan mulai beradu argumen dengannya.
Mengingat segala kejadian yang terjadi di tempat ini mampu membuatku tersenyum. Tersenyum mengingat betapa cinta ini sudah berakar cukup lama dan masih tetap tertanam begitu dalam. Ku pandangi lagi sekeliling toko buku ini mencoba merekam segala kejadian yang pernah terjadi di tempat ini. Ku langkahkan kakiku menuju tempat selanjutnya.
***
Aku berlari-lari kecil , mencoba menikmati kembali hal-hal yang dulu ku alami, berlari bersamanya. Taman ini begitu sepi, mungkin karena matahari saat ini tepat berada di atas kepala. Namun itu bukan halangan bagiku untuk terus menysururi taman ini. Di sini, aku dan dia selalu menghabiskan akhir pekan bersama, berolahraga pagi. Dia selalu mengajakku untuk menemaninya berlari, meskipun aku tidak terlalu menyukai lari apalagi di pagi hari, tapi aku selalu saja mengalah dan menemaninya, mungkin ini yang disebut cinta, selalu saja mampu melakukan apapun untuk orang yang dicintai meskipun tidak menyukai hal itu sama sekali. Aku berhenti di bangku taman, tempat yang akan selalu kami tempati setelah lelah berlari mengelilingi taman, di tempat ini kita selalu saling bertukar cerita tentang apa saja, dan tidak memperdulikan waktu yang terus bergulir membunuh setiap detik  yang bergulir. Aku menyandarkan badanku ke kursi taman, menikmati semilir angin yang menerbangkan rambutku.
Aku mengeluarkan supucuk surat dari dalam tasku dan memantapkan hati untuk menyerahkannya kepada  Aga. Aku tak cukup berani untuk mengungkapkannya secara langsung dan melalui surat ini aku bakal ngungkapin semua perasaan ini. Aku mulai merasa lelah dengan perasaan ini, rasanya begitu menyakitan memendam perasaan ini.  Surat ini akan ku serahkan langsung padanya saat ini, aku dan dia sudah berjanji untuk bertemu di taman ini.
***
                Bandara masih terlihat sunyi di pagi hari, yaa saat ini aku sudah berada di bandara bersama keluargaku yang mengantar kepergianku. Aku menghela nafas dan memandang bandara yang hampa.
                “Kamu lagi nunggu siapa sayang ?” Mama mengelus rambutku yang terjuntai lurus.
Aku hanya menggelengkan kepalaku sebagai jawabannya. Aku tidak menunggu siapa-siapa. Tidak akan menunggu lagi. Aku kembali tersenyum pahit untuk diriku sendiri.  Aku teringat kejadian kemarin, saat Aga datang menemuiku dan setelah menyerahkan suart itu kepada Aga, aku pun berlari meninggalkannya. Aga berkali-kali menghubungiku dan akhirnya aku menonaktifkan handphoneku, Aga pun datang kerumah tapi aku meminta mama untuk menyuruhnya pulang. Aku rasa aku belum siap menemuinya terlebih lagi dia sudah membaca suratku.
Mama menepuk pundakku dan menyadarkanku dari lamunan. “Pesawat kamu bentar lagi berangkat lho ! masuk gih”. Aku melirik jam ku, yaa.. memang sudah saatnya aku masuk, aku kembali menghela nafas panjang mencoba membangkitkan lagi semangatku. Aku tersenyum manis dan memeluk mama dan papa bergantian, aku akan sangat merindukan mereka.
“Kamu jaga diri ya ! jangan keluyuran disana, belajar yang rajin !” Papa memberikan menepuk-nepuk pundakku. “Kamu harus jadi wanita yang mandiri !” Aku mengangguk dan tersenyum penuh arti.
                “Jangan nakal ya disana, jangan lupa makan tapi jangan makan sembarangan, jaga kesehatan, jangan sampai kamu sakit,kalau ada waktu libur ingat pulang yah ! mama sayang kamu” Mama memelukku erat. Aku pun membalas pelukannya tak kalah erat.
Aku melambaikan tangan kepada kedua orangtuaku yang berjalan menjauh meninggalkanku. Baiklah dalam 7 jam kedepan aku akan berada di Korea, memulai lembaran hidup yang baru selama 2 tahun kedepan.
                “Fighting !!” Aku menyemangati diriku sendiri.
Saat akan melangkahkan kakiku, kurasakan sebuah tangan menarik tanganku. Aku terhenti tak mampu berbalik karena aku cukup tau siapa pemilik tangan ini dan itu membuat jantungku berdetak tak karuan.
                “Maaf aku datang terlambat”  Aku masih tak mampu membalikkan badanku. Ku rasakan cengkaraman tangan itu mulai mengendur.
                “ Berbaliklah !” Perintahnya dan dengan kedua tangannya yang akan selalu mampu mengunciku dia membalikkan badanku dan skeranag aku pun bisa menatapnya, menembus kedua matanya yang akan selalu menatapku dengan sinar yang sama, yaaa.. akan selalu sama. Dan tanpa bisa ku cegah, Aga tiba-tiba memelukku dengan erat. Seketika jantungku berpacu dengan cepat. Aku hanya terdiam, tak mampu berbuat apa-apa bahkan untuk sekedar membalas pelukannya. Tuhan, bisakah hentikan waktu saat ini juga ? aku ingin selamanya seperti ini.
Tanpa melepaskan pelukannya yang mulai mengendur, aku bisa mendengar helaan nafasnya.  
“ Maaf” 1 kata yang terujar dari mulutnya netah mengapa membuatku berpikir bahwa ini adalah jawaban dari segala penantianku, penantian panjangku. Meskipun dia hanya mengucapkan kata itu, aku sudah bisa menangkap maksudnya. Aku tersenyum dan merasa lega, meskipun sakit aku akhirnya bisa mengetahui jawaban dari penantianku. Setelah sekian menit berpelukan dan tanpa berkata apa-apa, aku memberanikan diri untuk melepaskan pelukan itu.  Aku harus melakukannya, melepaskan kenangan dengannya dan memulai kehidupan baruku di Korea. Dia menatapku dengan sorot mata yang aku kenali, sorot mata itu tak pernah berubah.
Dia kembali menghela nafas “Maafin aku Jingga, Maaf” Aku tersenyum mendengarnya, tersenyum perih. Mencoba menutupi segala rasa sakit yang masih melanda hatiku.
Aku balas menatapnya “Jangan minta maaf, seperti yang aku bilang disurat aku, gak ada yang salah, kamu ataupun aku. Aku cinta kamu dan itu sudah cukup untukku. Aku gak mengharapkan apa-apa darimu. And in the end, you’re still my best.
Aga menggengam tanganku dan tersenyum, senyum persahabatan yang selalu dia tujukan untukku “You’re still my best too, jangan lupain aku disana. Sesering mungkin hubungin aku” Aku mengangguk sekilas dan melirik jam tanganku, sebentar lagi aku harus berangkat.
                “Bentar lagi pesawatku berangkat, aku harus masuk” Aku memeluk Aga sebagai pelukan perpisahan dan dia balas memelukku.
                “Jaga kesehatan ya disana, semoga kamu bisa ketemu sama idola kamu, si yoochun itu” Aku hanya bisa tertawa mendengarnya. Aku melepaskan pelukannya. Aku tersenyum kepadanya dia pun begitu membalas senyumku “Aku pergi, daah”
Pada akhirnya aku pun mengerti, selama apapaun aku menunggu, sebesar apapun harapanku padanya, aku dan kamu tidak ditakdirkan untuk bersama. Garis hidupku tak menakdirkan kita berada dalam satu kisah yang sama..




Dear Aga
Kamu pasti heran kan kenapa aku nulis surat ini ? hahahahaha.Aku Cuma ingin berbegai cerita sama kamu.  Kamu tau kan kalau besok aku akan berangkat ke Korea buat kuliah S2. Nah sebelum berangkat ada sesuatu hal yang masih mengganjal di hati aku. Kamu pasti bertanya-tanya kan ? hehehe. 
Ok serius. Ada sesuatu hal yang aku mau ungkapin ke kamu, tapi gak bisa aku ungkapin secara langsung. Aku gak cukup nyali buat ngungkapin ini secara langsung. Dan sebelum aku berangkat aku bakal ungkapin apa itu, aku pengen di Korea nanti aku gak pengen ngerasa nyesel karena gak pernah ngungkapin ini. Aku rasa`kamu udah tau apa yang aku maksud ?
Iya, aku suka kamu Kamu boleh ketawa bacanya, aku beneran suka kamu.
Aku suka kamu. Aku suka kamu dari pertama kali kita ketemu, dari pertama kali kita berantem gara-gara club sepakbola. Aku suka kamu dari 7 tahun yang lalu. Aku suka kamu dari kita masih pake seragam putih abu-abu. Aku suka kamu, dan semakin hari rasa`suka aku ke kamu terus berkembang,dan  semakin hari kita semakin deket sebagai sahabat. Kita selalu kemana-mana bareng, makan bareng, nonton bareng, cerita-cerita bareng.  Aku masih suka kamu walaupun kamu pacaran sama cewek lain. Aku masih suka kamu, walaupun  kamu selalu aja gonta-ganti cewek. Aku masih suka kamu walaupun aku pacaran dengan cowok lain. Aku masih suka kamu walaupun aku tau kamu cuma nganggep aku sahabat. Aku masih suka kamu walaupun kamu itu egois dan sederet sifat jelek kamu yang aku gak suka.
Dan aku selalu suka kamu meskipun aku tau kamu gak bakalan punya perasaan yang lebih sama sama aku. Aku selalu suka kamu bahkan ketika akau tau perasaan aku ini bertepuk sebelah tangan. Aku selalu suka kamu entah sampai kapan, aku belum tau pasti kapan perasaan ini akan menemukan ujungnya.
Selama 7 tahun ini aku selalu berharap kamu juga bakal suka sama aku,berharap aku akan menjadi bunga mimpi kamu, berharap aku dapat berjalan beriringan dengan kamu, berharap kamu bakal menggenggam tanganku bukan genggaman sebagai sahabat tapi genggaman sebagai kekasih.  Tapi aku cukup tau diri. Aku cukup tau kalo itu hanya hal yang sia-sia, aku cukup mengerti gimana kamu, aku cukup ngerti cewek seperti apa yang kamu suka dan itu bukan seperti aku. Aku tau selamanya aku bakal tetap sama di mata kamu, aku bakal tetap menjadi Jingga sahabat kamu, dan kamu gak akan pernah memandangku lebih dari itu. Aku suka kamu, tapi aku gak mengharapkan apa-apa. Aku merasa cukup dengan perasaan ini, aku merasa perasaan ini cukup buat aku simpan sendiri. Dan semakin hari aku semakin yakin,rasa ini lebih baik buat aku aja sendiri. Kamu gak perlu bilang apa-apa, aku udah tau kok, kamu juga gak perlu jawab apa-apa, karena aku gak nanya apa-apa. Jangan merasa bersalah sama pengakuan aku ini. Rasa ini juga gak salah, gak ada yang salah kok. Aku cukup bahagia dengan perasaan ini. Besok aku berangkat ke Korea bukan untuk lari dari kamu atau apapun itu, aku ke Korea karena kamu tau kan seberapa besar rasa sukaku pada negara itu, di Korea nanti aku gak akan berusaha lupain kamu, biar perasaan ini yang nentuin kemana arah selanjutnya. Jangan terbebani sama pengakuan aku ini, I’m still your bestfriend ever, and you’re definetly my man, my bestfriend ever. Saranghae….

Jingga
P.S Doakan semoga aku bisa bertemu Yoochun Oppa.