Pages

Sabtu, 03 Desember 2011

CERPEN

Untitled



Aku termenung menatap langit malam ini. Malam ini langit dipenuhi berjuta-juta bintang yang memancarkan sinarnya, siapa pun yang melihatnya pasti berdecak kagum. Dari tempatku rasanya bintang bisa kuraih.
Ke julurkan tanganku berusaha meraih bintang “Indah..” gumamku pelan.. tiba-tiba aku tersentak menyadari suatu hal bintang itu seperti kamu begitu indah  dan tak mungkin terjangkau untukku. Sekali lagi aku menghela nafas mengingat semuanya, 3 bulan perjalanan kisahku denganmu dan aku baru tahu ternyata ada banyangan  yang mengikuti perjalanan kisah kita. Aku kembali mengingat kejadian sore tadi, dimana aku mengetahui semuanya, mengetahui bayangan yang mengikuti kisah kita, yang menyadarkanku bahwa seharusnya kisah ini memang tak harus dimulai. 
“Hufft..kenapa? kenapa baru sekarang aku tahu semuanya” aku mengehala nafas membenamkan kepalaku diantara lutuku, bayangan tadi sore masih terekam jelas diingatanku, dimana aku menemukan file yang kamu simpan dan tidak sengaja ku sentuh, karena keingintahuanku aku membuka file yang kamu simpan di laptopmu dengan nama “My secret”. Dan yang pada akhirnya aku ketahui file itu adalah diary mu, saat itu aku baru tahu ternyata kamu suka menulis kejadian yang kamu alami, saat membuka file itu aku tak membayangkan akan menemukan suatu rahasia. Kamu memulai menulis diarymu 1 tahun lalu, aku membacanya rangkaian kata yang kamu tulis dengan indah, suatu harapan terbesit  di hatiku bahwa kamu pasti akan menulis tentangku. Aku membaca dengan seksama tiap kata yang kamu tuangkan kadang aku tertawa membacanya, kadang aku cemberut saat mendapatkan nama mantanmu yang masih sempat kamu selipkan , bukan..bukan kamu selipkan lagi , aku mulai tersadar bahwa disetiap lembar cerita tentangmu, kamu selalu memasukkan namanya. Dengan rasa yang bercampur aduk aku membaca dengan seksama tiap kata yang kamu tulis , dan aku menyadari satu hal bahwa aku tak memenemukan namaku di cerita hidupmu, namaku tak ada, tak ada kisah tentangku. Hanya kisah kamu dan dia, meskipun kalian telah berpisah 6 bulan lalu, kamu masih menuliskan namanya di cerita hidupmu. Aku sampai pada halaman terakhir yang dari tanggalnya aku tahu kamu menulisnya 3 hari yang lalu. Aku membacanya dan seketika nafasku tercekat, lutuku lemas, kamu merangkai kata yang begitu indah seakan mengisyaratkan kerinduan yang begitu mendalam untuknya sampai saat ini, perasaanmu padanya tak berubah. Air mataku tumpah, tak dapat ku bendung,bahkan kamu tak menulis kisah tentang kita, tak ada kisah kita, tak ada. Apa kamu tak menganggapku ????
Kubenamkan kepalaku makin dalam, sakit..sakit..hanya itu yang aku rasakan, mengetahui ternyata 3 bulan perjalanan kita kamu bahkan tak menganggapku sebagai bagian dari hidupmu. Sekarang semuanya terjawab kenapa kamu tak pernah mengenalkanku pada teman-temanmu, dan jika pun kamu mengenalkanku kamu pasti mengatakan aku adalah adikmu, aku selalu bertanya padamu kenapa mengakuiku sebagai adikmu , kamu hanya berkata “Kamu kan memang adikku, adik yang paling aku sayang,hehehe ” Jika kamu mengatakan itu aku hanya mengangguk tanda mengerti,aku memang 2 tahun lebih muda darimu, meskipun 100 pertanyaan yang muncul dalam benakku tentang pernyataanmu tadi, aku langsung menampiknya karena aku tak ingin berprasangka buruk padamu. Aku mengerti sekarang, mengapa tak pernah kamu membahas tentangku di akun jaringan sosial milikmu..tapi, lagi-lagi aku termakan oleh kata-katamu,dan aku dengan mudahnya percaya.
“Sakit Yo… sakitt..“ Ujarku pelan sambil memegangi dadaku. Tiba-tiba HPku bergetar menandakan ada panggilan yang masuk, kuraih HP ku yang tergeletak tak jauh dari tempatku duduk, kulihat layarnya, aku Cuma mendesah.
K’Rio calling. . .
Aku tak mengangkatnya, ada sedikit pergolakan dalam hatiku, jika aku angkat aku tak yakin mampu bertahan untuk tidak meneteskan air mata, jika tak ku angkat mungkin kamu akan menghubungiku terus. Layar hpku kembali berkedip kembali
K’Rio calling. . .
Aku menarik nafas dalam-dalam mencoba menetralkan perasaanku, lalu memutuskan untuk mengangkatnya
“Hmm….iya” Ujarku pelan
Terdengar suara hingar bingar diseberang sana, tempat mu berada “Iyaa,,dari mana aja sayang ? kok telfonnya gak diangkat tadi ??”Ujarmu  sedikit berteriak.
“eh.. tadi aku gak denger, maaf .. “ aku mengadahkan pandganku ke atas “kamu lagi dimana kok berisik ?”
“Aku lagi di rumah Gabriel, anak-anak lagi pada ngumpul, kamu lagi ngapain ?”
Aku membenamkan kepalaku lagi, kenapa hati aku makin sakit denger suara kamu “ Lagi liat bintang”
“Oh,, asyik dong..hhehee, laptop aku masih pengen kamu pake gak shil ?” Tanyamu dengan volume suara yang mulai mengecil, sepertinya kamu telah berpindah tempat karena aku tak mendengar lagi hingar bingar.
“Udah gak kok, kamu mau ngambil kapan ? atau besok aja aku bawa ke kampus. Besok kamu kuliah pagi kan? Aku juga kuliah pagi kok”
“hmm. Ok deh sayang, besok aku jemput ??” Tanyamu lagi
Aku menghelas nafas, “Gak usah yo, besok aku berangkat sama Kak sion kok”
“Oh gitu, kamu kayaknya lagi sakit, suaranya lemes gitu.. istirahat aja ya sayang, Love you”
Aku langsung memutuskan sambungan tanpa membalas kata sayangmu, mungkin kamu heran atau mungkin tak peduli sama sekali, kali ini aku hanya ingin menangis, menumpahkan semua rasa sakit yang ada di dadaku.
***
Aku dan kamu sedang duduk di café blues langganan kita, café yang sering kita kunjungi hanya untuk mencicipi Cappucino, minuman favorit kita berdua. Aku hanya tersenyum mendengar ceritamu tentang teman-temanmu yang berencana untuk membuka usaha, dapat aku lihat pancaran matamu yang begitu berapi-api, matamu adalah salah satu magnet bagiku, magnet yang mampu menyedot segala perhatianku.Tiba-tiba tatapan matamu berubah menjadi lebih syahdu, kamu pun berhenti bercerita. Aku menatap matamu, dapat kulihat matamu memancarkan kerinduan yang begitu dalam, aku segera mengikuti arah matamu. Dan seketika dadaku terasa terhimpit, rasa sakit yang seminggu lalu telah berhasil kuminimalkan, mencuat kembali. Aku dan kamu menatap sosok yang menjulang tinggi disudut sana menggunakan dress batik selutut, aku sangat mengenali wajahnya, sangat. Bagaimana tidak di laptotpmu hanya ada potret dirinya, bukan diriku. Bukan diriku…
Aku diam tanpa kata, bahkan untuk sekedar menegurmu yang masih terus menatapnya dengan pandangan itu,aku tak pernah melihatmu menatapku seperti itu, tak pernah…rasa sakit di hatiku makin menghimpit, aku butuh udara untuk bernafas.
“Aku ke toilet dulu” Ujarku, dan kamu tak mengubrisnya. Pandanganmu tetap tertuju padanya.
Ditoilet aku hanya bisa terduduk lemas, air mata sudah menggenang di pelupuk mataku, rasa sakit ini menjadi lebih besar lagi, aku tak tau harus berbuat apa,banyak pertanyaan dalam benakku…apa kisah ini harus berakhir ?? ataukah aku harus mencoba bertahan ??
Setelah berhasil menenangkan diri, aku menarik nafas dalam-dalam…mencoba tersenyum, tersenyum dalam kepahitan yang aku rasakan. Saat keluar dari toilet aku melihat kamu tampak mengobrol dengannya,,dengannya?? Aku mencoba mengontrol emosiku, dengan langkah-langkah pendek aku berjalan menuju kearah kalian, dapat kulihat kalian sedang bercanda ria, aku yang sekarang berada di tempat kalian bahkan tak melihatku, tak menganggapku ada…
“Ehhhmm…Ehhhm…Ehhhmm.. ”Ujarku pelan.
Kalian masih tak mengubrisku..
“Ehmmm…Rio…aku mau pulang..”Ujarku dengan suara yang lebih keras,kalian berdua berbalik melihatku..
Kamu tampak kaget menyadari keberadaanku, kenapa kamu kaget ??
“Eh Shilla,, kamu bilang apa tadi ?” Ujarmu, kulihat dia memandangku dan memandangmu bergantian, seolah bertanya siapa diriku…”oh, iya shilla kenalin ini Dea teman aku,, dea ini shilla” aku menjabat tangannya.. Dea tampak begitu anggun, senyumnya merekah begitu menawan, aku merasa minder berada di depan dea, pantas saja kamu masih memendam rasa padanya, aku yakin tak ada pria yang mampu berpaling darinya.
“Shilla, siapanya rio ??” Tanya Dea padaku..
Ketika aku ingin menjawab, kamu lebih dulu menjawabnya “Shila adik aku kok” Ujarmu mantap, tanpa ada keraguan sedikitpun “Eh, shil..katanya mau pulang tadi ? kenapa?”
Aku pura-pura memainkan HPku “Eh,, tadi mama nelfon, aku disuruh pulang, ada urusan katanya”
Dapat kulihat kamu dan Dea mengangguk “Ehm,, shil…pulangnya aku gak anter ya..aku..aku masih ada perlu..kamu bisa pulang sendiri kan ??” Ujarmu dengan wajah seolah-olah merasa bersalah.
Aku menarik nafas menatap matamu kemudian mengangguk “Iya..bisa kok,, aku pulang dulu ya.. duluan yaa de , yo”aku tersenyum pada Dea. Dea pun tersenyum sambil mengangguk..aku segera memutar badanku dan dengan langkah dipercepat meninggalkan café ini, aku tak mampu membendungnya lagi, sakit ini makin menjadi-jadi.
****

Aku menatap lembaran kertas putih yang telah ku goreskan dengan kata-kata indah, kata-kata yang kutujukan padamu,dan terangkum menjadi sebuah surat. Surat yang kutulis dengan penuh rasa sakit dan linangan air mata. Aku menghembuskan nafas, mencoba menghirup udara sebanyak-banyaknya. Aku memutuskan menulis surat ini, setelah kejadian 2 minggu lalu, di café blues. Semenjak itu kamu berubah , berubah…semakin menjauh , dan seperti tak terjangkau lagi..apalagi 2 hari lalu saat pertemuan kita yang pertama sejak kejadian di café. Aku tak sengaja membaca sebuah puisi yang kamu selipkan dalam KUHP yang kamu bawa yang rencananya akan aku pinjam untuk mengerjakan tugas. Aku hanya bisa tertunduk lemas setelah membacanya, dalam puisi itu, aku mengetahui satu hal yang pasti..
Bukan aku, bukan diriku yang ada dihatimu..
Hanya ada dia..dan dia..DEA.
Aku menyelipkan surat untukmu dalam KUHP milikmu yang akan ku kembalikan siang ini, aku celingak celinguk mencarimu diantara kumpulan senior yang berada di parkiran, tempat kamu dan teman-temanmu berkumpul, aku berjalan menghampiri mu..ku kuatkan hatiku.. ini saatnya.
Kamu melihatku berdiri tak jauh dari tempatmu, kamu pun berlari menghampiriku.
“Hei sayang, kenapa ?” Ujarmu sambil tersenyum memerkan senyum yang biasa membuatku melayang, tapi sekarang tidak lagi.
“Ehmm.. ini aku mau kembaliin KUHP kamu” aku menyerahkannya padamu
“Udah selesai tugasnya ??” tanyamu lagi sambil mengacak-ngacak rambutku, salah satu kebiasaanmu..
Aku tak merenggut kali ini, aku hanya mengangguk sambil tersenyum “Iya..udah kok…hmmm…di dalam KUHP ada surat buat kamu, dibacanya ntar aja..kalau udah baca…besok temui aku di taman kampus ya jam 4 sore...aku pergi dulu masih ada kuliah..dah rio” aku segera berbalik badan berlari menghampiri teman-temanku, masih bisa kudengar suara mu yang memanggil namaku.
****
Aku terduduk di taman kampus, sedari tadi aku hanya melirik jam di tanganku, kamu terlambat 10 menit.
“Shil, kamu harus kuat,semangat !” Ujarku menghibur diri..akupun tersenyum miris membayangkan apa yang akan terjadi nanti.
Tiba-tiba kurasakan sebuah tangan menepuk kepalaku, tanpa berbalik pun aku sudah tahu, itu kamu. Kamu pun duduk disampingku, aku tak mampu menatapmu, cairan bening sudah menggenang di pelupuk mataku. Aku tak mau menangis lagi. Tapi mengapa begitu sulit untuk membendungnya.
Tercipta keheningan selama 20 menit diantara kita, tak ada yang berani memulai, tidak aku tidak juga kamu. Aku menghelas nafas dalam-dalam berusaha mencari kekuatan. Aku harus memulainya, harus. Inilah saatnya.
“Kamu udah bacakan suratnya ??”Tanyaku pelan tanpa memandangmu. .
Kamu diam, hanya menatapku terus menatapku…
“Jadi ??” Tanyaku sambil membalas tatapanmu
Kamu mengehela nafas, memalingkan pandanganmu, menatap langit..
“Dea itu …dia...dia..aku...”Kamu menghela nafas
Hening sesaat “maafin aku shil..” Katamu dengan suara tertahan
Aku sudah tahu pasti jawabanmu,aku tersenyum pahit. Memang pada akhirnya bukan aku ..bukan aku yang ada dihatimu, bukan aku yang akan kamu pilih..
Aku tersenyum pahit, inilah akhirnya, akhir dari kisah kita. Kisah yang seharusnya tidak pernah kita mulai.
“Makasih ya Yo, kamu udah milih..”
“Shill.. maafin aku,aku..aku…”
Aku tersenyum, memamerkan senyum termanisku “Gak kok yo, gak ada yang perlu dimaafin, karena gak ada yang salah. Makasih kamu udah mau milih, meskipun bukan aku yang kamu pilih, aku turut bahagia buat kamu” Aku memandangmu, aku ingin menikmati setiap lekuk wajahmu.
Kamu tersenyum kaku lalu memberikanku surat yang kemarin aku selipkan di KUHPmu, aku menerimanya kemudian bangkit dari tempat dudukku..berbalik badan dan berjalan terus berjalan sambil membaca lagi surat yang aku berikan padamu kemarin.
Saat bintang datang,
Tampak jelas di awan
Inginku menggapai kejora kan ku peluk sungguh
Menghapus luka di diri
Tiada lelahku, menanti dan tunggu harapan yang dulu kau janjikan
Namun sampai kapan, ku harus slalu begini kasih
Bila cinta harus memilih
Katakanlah pasti padaku
Dia atau daku kasih
Dapatkan cintamu
Takkan kuingkari kenyataan yang ada
Dan bila memang kita harus berpisah
Oh kekasihku..biarkan aku dengan cintaku
Dengan jalanku
Kan kuukir manis kenangan kasih kita.

Setelah membacanya aku mengacungkan surat itu ke atas , melepaskannya agar terbang bersama angin, seperti perasaanku saat ini, aku akan membiarkannya terbang bersama angin. Aku kembali melanjutkan langkahku. Menuju kehidupan baruku, tanpa kamu, dan perasaan ini.
                                                                        ******


0 komentar:

Posting Komentar